Halo halo semuanya apa kabarnya? wuidih berapa juta tahun gue gak ngisi tong sampah ini. Maklumlah sekarang gue bekerja bagay kooda. Trus trus kabar baiknya sekarang gue udah punya pacar yang mau ngajak gue kawin! Ye ye ye la la la...
Persoalan yang teramat penting adalah : kita beda warga negara. Jujur kawin beda negara itu ribet setengah mampus, entah mau di endonesya ataupun di luar. Sama ribetnya. Tapi gue memilih untuk menikah di negara lakik gue, Perancis, dengan alesan Gue Males Ngurusin Agama. Salah satu hal yang menggelitik gue dan bikin rada jengah itu ya perkawinan di indonesia harus secara agama. Males. Bener.
Kalo ditanya kenapa, jawaban gue cuma satu : "Gue gak mau mencampur administrasi gue dan agama, bagi gue agama adalah ranah pribadi". So kita memutuskan kewong di France dengan pernikahan secara catatan sipil.
Bedanya di France, agama tidak memainkan peran apapun dalam pernikahan. Kalaupun mau menikah secara agama, tidak masalah karena sifatnya opsional. Yang penting adalah pernikahan secara negara.
Bref, bagi yang mau mengikuti jejak gue, akan gue ceritakan apa-apa aja yang perlu dipersiapkan kalau mau menikah sama cowok ganteng perancis.
FIRST STEP :
Pastikan tanggal kawinan kalian adalah minimal 3 bulan sejak sekarang, atau maksimal 6 bulan. Ada beberapa pertimbangan :
1. La mairie atau catatan sipil setempat di perancis biasanya minta untuk kita submit dokumen paling lambat 2 bulan sebelum tanggal yang direncanakan. Alasannya adalah karena bagi mereka, kita akan membutuhkan waktu untuk publication des bans di negara kita (meskipun tidak wajib dilakukan di indonesia). Peraturan ini tergantung mairie setempat ya guys. Kebetulan mairie tempat lakik gue mintanya 2 bulan. Dan karena kita sama-sama nggak tau, kita jadi mundurin tanggal nikahan gara-gara melewati 2 bulan.
2. Mairie akan minta akta lahir asli yang ditranslate oleh KBRI atau kedutaan perancis di indonesia. Masa berlakunya adalah 6 bulan sejak tanggal penerbitan. Jadi kalo direncanakan nikah bulan Juni, paling cepet Januari kalian baru bisa translate akte lahir.
SECOND STEP :
Hubungi KBRI setempat untuk memperoleh informasi mengenai pembuatan Certificat de Coutume. Yaitu sertifikat yang dikeluarkan untuk memberi keyakinan bahwa kalian masih single atau tidak dalam ikatan pernikahan. Gue sarankan kirim email dulu. Karena apa yang gue alamin pahit banget. Gue gak kirim email, gak nelpon, gue search di website. Ternyata munculnya formalites untuk tahun 2009. Sudah basi banget dan peraturan sudah berubah. Gue jadi harus mengulang langkah-langkah mengerikan untuk dokumen-dokumen gue.
Dokumen yang diminta oleh KBRI :
- Akta lahir asli yang dilegalisir Kemenkumham dan Kemenlu
- Keterangan Belum Menikah yang dilegalisir Kemenkumham dan Kemenlu
- Pernyataan Belum Menikah yang ditandatangan oleh Kelurahan atau Kecamatan
- Surat persetujuan orang tua (bermaterai)
- Paspor atau carte d'identite calon suami atau istri
- Justificatif domicile calon suami atau istri
- Attestation travail calon suami atau istri
Minta calon suami ato istri untuk pastikan ke mairie masing-masing ya. Lakik gue pas itu dikasi formulir untuk diisi dan dikasi persyaratan apa yang harus dibawa. Nah, syaratnya untuk kita WNI :
- Akte lahir asli yang ditranslate dan disahkan oleh KBRI atau Kedutaan Perancis
- Certificat de celibat (pernyataan belum menikah) yang disahkan dan ditranslate KBRI atauKedutaan Perancis
- Certificat de Coutume atau Capacite Matrimoniale yang dikeluarkan KBRI Paris.
- Paspor gue dan passporte temoin (saksi dari pihak gue)
- Isian formulir
- Attestation domicile
THIRD STEP
Yang perlu disiapkan adalah akte lahir yang nantinya akan ditranslate dan disahkan oleh KBRI atau kedutaan perancis. Nah langkah pertama adalah gue kudu ke catatan sipil kota kelahiran untuk minta akte baru, karena akte gue masih yang laminating. Delay pengerjaannya seminggu sih, jadi kalian bisa ngurus yang lain dulu seperti ngurus pernikahan di kelurahan.
Oh ya, akte lahir pengurusannya bisa diwakilkan. Jadi tenang aja gausah pulang kampung. Gue nitip mak gue pas itu
Setelah akte lahir jadi, kita kudu minta legalisir di kemenkumham dan kemenlu.
Terlebih dahulu mintalah ke kemenkumham. Lokasi nya di Ditjen AHU di Kuningan. Bayarnya 25.000 via loket bni di lokasi. Saran gue, datenglah pagi-pagi jam 9, karena masih belum antri. Kalo makin siang, beuh udah kayak antrian sembako. Parahnya, loket yang melayani segala bentuk legalisir cuman ada 1. Siapkan kesabaran yang banyak ya.
Yang perlu dibawa : dokumen yang mau dilegalisir, copy 1 kali dan copy KTP, materai, map.
Waktu pengerjaan sekitar 3 hari. Kalo bikinnya senin, jadinya kamis siang.
Setelah dari kemenkumham, kalian kudu beranjakk ke kemenlu. Kemenlu lokasinya di Pejambon, deket stasiun gambir. Berhubung kantor gue di lapangan banteng, gue bisa jalan kaki ke sono. Untuk mengelabui boss gue, gue dateng jam 8 ke kantor, trus jam 9 kabur ke kemenlu.
Kemenlu lebih teratur dan gak banyak orang. Loket yang melayani juga cuman 1 tapi gak ada antrian. Yang perlu dibawa hanya dokumen dan map. Nah kalo menurut yang pengalaman, pakainya map kuning ya. Gue sih gatau itu bener ato ngga, tapi gue selalu pakai itu. Karena mereka sudah digital, jadi gak perlu pake materai. Lgegalisirnya bagus, ada barcode nya gitu. Bayarnya 10.000 per dokumen.
Delay pengerjaannya 2 hari. Jadi kalau masukin Senin, jadinya Rabu pagi.
FOURTH STEP
Ini yang super ribet. Karena gue salah baca informasi, gue jadi harus kirim ulang dokumen ke KBRI. tapi disini gue akan kasih tau yang benernya aja ya. Biar enak bacanya. Jadi KBRI akan minta surat keterangan belum menikah yang dilegalisir Kemenkumham dan Kemenlu. Kemenkumham sendiri akan minta surat dari KUA (bagi yang muslim) dan catatan sipil bagi yang non muslim.
Perjalanan surat ini panjang. Kalau bisa, sambil nunggu akte lahir jadi, kalian urus ini. Yang pertama kalian harus siapkan adalah surat pernyataan belum menikah yang ditandatangani di atas materai. Siapkan juga kolom tanda tangan untuk ketua RT, RW, dan kelurahan. Formatnya seperti apa tinggal minta di kelurahan dan bisa diketik ulang.
Surat ini beserta KK dan KTP dibawa ke RT dan RW untuk minta pengantar dan tanda tangan di atas surat keterangan kalian. Lalu semuanya dibawa ke kelurahan. Di kelurahan akan diminta ngisi formulir N1-N4. Form N3 itu harus diisi dan ditandatangan suami istri plus fotonya. Karena lakik gue di Perancis dan gue gak ada foto, yaudah dikosongin aja.
Kelurahan akan menerbitkan surat keterangan belum menikah, sekaligus melegalisir surat keterangan yang kalian bikin sendiri.
Kalau kalian muslim, bawa surat-surat tersebut dan formulirnya ke KUA. Oh ya, jangan lupa minta form spesimen tanda tangan kepala KUA dari Kemenkumham. Kalo ngga ada form itu, kalian kudu melewati Kementrian Agama dulu. Ribet kan.
Nah kalo kalian non muslim, bawa surat-surat tersebut dan formulirnya ke catatan sipil. Yang ini lebih ringkes sih.
Setelah dari KUA atau Capil, kalian akan dapat surat pengantar rekomendasi menikah. Nah surat ini yang nantinya akan dimintakan legalisir ke kemenkumham dan kemenlu.
FIFTH STEP
Setelah kalian dapat semua legalisir dan suratnya, kalian punya 2 pilihan :
1. Translate dan legalisir di KBRI;
2. Translate di penerjemah tersumpah dan di legalisir di kedutaan perancis.
Gue memilih yang pertama. Karena gue gak perlu bolak balik lagi ke penerjemah dan kedutaan, mengingat gue sulit banget bolos jam kantor.. Daripada gue dibunuh bos gue, mending gue langsung kirim ke KBRI..
Kalau kalian memutuskan begitu, kirim aja semua dokumen yang diminta by pos ke KBRI. Gue pas itu kirim via pos indonesia cuma bayar 300an ribu dan 4-5 hari udah sampe. Dan pos indonesia sekarang bisa trace surat kalian ada di mana. Jempol kok.
Just info, kalo JNE atau TIKI mahal bok, bisa 600-800 ribu. Gue tetep irit lah pakai post.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan kalau mau translate di KBRI :
- KBRI akan mulai translate kalau biaya nya sudah dibayarkan, sebesar 15 euro per dokumen. Lakik gue pas itu kirim cek ke temen gue orang indonesia di paris, supaya cek bisa dikasihkan ke KBRI. Temen gue bayar dengan cash ke KBRI. Total biayanya 45 euro, yakni untuk akte lahir, surat keterangan belum menikah, dan pembuatan certificat de coutume.
- Harus ada yang ambil di KBRI atau kalian kasih amplop chronopost ke KBRI dengan alamat calon suami/istri
- Delai pengerjaan 1 minggu untuk 3 dokumen tersebut.
SIXTH STEP
Setelah dokumen selesai dari KBRI, minta ke calon suami/istri atau minta tolong teman untuk ambil di KBRI. Dokumen tersebut nantinya akan dikasihkan ke mairie setempat. Biasanya mairie akan minta asli semuanya, jadi ikhlaskan saja. Oh iya, dokumen versi Indonesia akan dikembalikan juga oleh KBRI jadi kalian punya semuanya.
Di mairie, calon suami/istri kalian akan menentukan tanggal pernikahan sekaligus tanggal wawancara. Masalah wawancara, tiap mairie beda-beda. Kebetulan gue sanggup berbahasa perancis jadi gak perlu menyiapkan traducteur atau penerjemah untuk hari pernikahan.
Gue mau wawancara tanggal 27 desember besok. Doakan doi gak nanya yang aneh-aneh ya.
Semoga sukses!
Sabtu, 17 Desember 2016
Selasa, 17 Februari 2015
Kok bisa masuk OJK ya?
Halo gaes, long time no see. Yah maklumlah si perantau udah balik lagi ke tanah air yang macet dan penuh masalah jadinya gue rada-rada culture shock lageh. Anyway gue mau sharing aja nih pengalaman gue yang bisa secara aneh diterima di OJK alias Otoritas Jasa Keuangan. Apaan tuh? Sama kok gue juga ngga ngerti. Gue aja ngelamar via online tu cuma gegara si OJK ini jadi popular job di jobscdc,com. Walhasil gue baru tau apa itu OJK setelah gue lulus dan gue taunya cuma ini : OJK itu partner BI yang bagian ngawasin ekonomi mikro dan masyarakat di sektor jasa keuangan. Bener atao engganya mohon dimaklumi karena saya orang arsitek yak, bukan orang bank.
Gue engga akan berbagi tips dan strategi disini karena emang engga ada strategi khusus. Gue ngga ada belajar, ngga ada doa kenceng2, ngga ada persiapan apa2, gue cuman mengikuti jalan yang dikasih Tuhan aja. Tapi mungkin cerita gue bakal bermanfaat buat kalian yang bener-bener niat masuk ke OJK
Semua kisah gue bermula dari kerinduan gue beraktifitas kembali setelah bored banget jadi pengangguran. Gue pulang dari Perancis bulan Juli, dan sampe Agustus gue masih hura-hura sama pacar. Lama-lama gue bosen juga. Gue pengen jadi dosen sebenernya, atau kuliah S3. Tapi gue berasa gagal muluk cari beasiswa, padahal gue udah punya 4 sekolahan di perancis ama jerman yang mau nerima gue (malah curhat).Lalu dengan demikian gue jadi demen buka-buka situs lowongan kerja. Gue masukin lowongan-lowongan ke berbagai tempat kayak developer-developer, trus universitas, dan termasuk OJK.
Gue ngeliat di situs jobscdc.com, rekrutmen OJK yang ngambil hampir untuk all diciplines, jadi popular jobs. Ya kalo di twit, doi jadi trending topic lah. Gue lantas maen apply-apply aja. All dicipline kok ya, untung-untungan aja. Dan saat itu, GUE ENGGA TAU OJK ITU APA.
Tanggal 14/15 oktober gitu gue mendadak dapet SMS dari PPM ASSESMEN SDM. Doi bilang, gue suruh liat hasil seleksi tahap I OJK. Hah? Apa ya? Gue amnesia. Gue buka situsnya, log in pake ID gue seperti yang diminta, lalu gue dapet pernyataan bahwa gue lolos seleksi administrasi (tahap I) dan gue berhak ikut psikotesnya tahap II. Dan gue juga lupa bahwa gue milih Jakarta sebagai lokasi tes. Indah banget. Tanggal 17 gue harus berbondong-bondong ke Jakarta. Secara, domisili gue emang di Semarang. Tapi entah mengapa gue milih Jakarta sebagai lokasi tes. Tapi untungnya kepergian gue bertepatan dengan panggilan wawancara dari Paramount Land. Jadi ya lumayanlah jabanin dua-duanya.
Tes Tahap 2 : Psikotes Memeras Otak dan Verifikasi Berkas
Gue dapet tempat di LPPI Kemang. Dengan kostum putih item seperti yang disyaratkan, gue kebagian yang jam 1 an gitu. Konon kata si pengawas tes, pas tahap administrasi ada 41 ribu pelamar. Trus sekarang disaring TINGGAL 29 ribu pelamar. Gue ngga kebayang ngoreksi hasil psikotes untuk 29 ribu manusia. Bisa tirakatan nih. Gue merasa biasa aja ngadepin psikotes. Yah secara gue udah pernah ngadepin BCA dan Perumnas punya, tapi kayaknya lebih sadis dikit. Yang bikin tangan dan dengkul gue pegel (maap soalnya otak gue di dengkul jadi kalo kebanyakan mikir, dengkul gue kram), adalah si ngitung-ngitung di kertas A3.Sekalinya gue kebayang Colin Farrell di kepala gue, langsung buyar semua itungan. Dilarang ngelanjor atau mikirin orang ganteng selama tes ngitung-ngitung ini.
Verifikasi berkas asli sih doi cuma ngecekin jurusan sama IPK kita sesuai ngga antara yang kita apply online sama kenyataan di ijasah.
Btw disini gue pake ijasah S2 gue di Indo, yang di perancis masih dalam proses pelaknatan eh penyetaraan di dikti yang udah berbulan-bulan kaga kelar.
Tes tahap 3 : Psikotes lagi naudzubillah min zalik, pengetahuan umum, bahasa enggres, dan verifikasi berkas (again?)
Gue dinyatakan lolos ke psikotes lainnya + tes pengetahuan umum + enggres. Asal lo tau, gue kepikiran "tes pengetahuan umum = literally umum". ternyata engga. Pengetahuan umum itu seharusnya Pengetahuan Umum ke-OJK-an. Mati aja. Gue tau ini pas gue udah 5 menit menuju tes. Gue dapet shift ke 2 yang notabene jam 1 siang. Berhubung ternyata molor banget, shift 1 aja baru kelar jam 1. Trus kudu nunggu orang PPM pada lunch break. Jadilah baru mulai jam 2.
Gue tau kalo itu ke OJK an gara-gara ada anak yang nanya ke temennya dari shift 1. Kata temennya sih seputar OJK, dan kata temennya lagi, dia mau mampus ngerjainnya. Gue langsung sakratul maut. 5 menit sebelum masuk gue buru-buru buka BB jadul gue buat liat situs OJK. Paling ngga gue tau kepanjangan OJK dan didirikan tahun berapa.
Ternyata ngga hanya seputar ke OJK an, tapi seputar perbankan juga. Isinya bahasa-bahasa dari planet api yang gue ngga ngerti apaan. Gue sukses ngitung kancing buat ngerjainnya.
Pertama-tama lo akan dikasih psikotes yang nggambar-nggambar dan soal-soal psikotes lain. Trus lo akan dicekokin tes pengetahuan OJK. Lalu bahasa enggres. Nah sebelum mulai tes psikologi, kalian akan diminta nunjukin sertifikat toefl. Sukur kalo punya yak, sebab kalo dirasa memenuhi syarat, bisa bebas ngga ikut tes bahasa inggris. Toefl gue pas itu cuma 537 tapi boleh ngga ikut tes. Walhasil gue jam 6 sore udah boleh pulang dengan beberapa temen lain yang juga udah pake toefl. Saran gue, kalo niat banget ke OJK, tes toefl aja dulu. Selain sertifikatnya bisa dipake, kalian ngga perlu bertaruh nyawa buat tes bahasa inggris, dan paling penting : BOLEH PULANG DULUAN.
Tes tahap 4 : Leaderless Group Discussion.
Jujur gue paling benci kalo tes dimanapun ada beginian. Karena beberapa hal : Satu, gue ngga suka diskusi. Dua, gue ngga suka ngomong. Tiga, lo bakal menemukan orang-orang yang carmuk di depan juri, alias dia akan berusaha untuk menguasai diskusi supaya nilainya bagus dan orang lain ngga akan dikasih kesempatan buat ngomong.
Yang paling fuck up adalah : GUE LAGI KENA CACAR. Baru seminggu sakit, gue udah harus naik kereta ke jakarta. Gue ogah sebenernya, tapi pacar gue maksa-maksa. Doi bilang, OJK gajinya gedhe loh. Oke. Gue dengan bentol-bentol di sekujur tubuh pun berangkat ke kantor PPM buat LGD.
Gue bentol-bentol dan gue bau karena seminggu ngga boleh mandi. Gue merasa gue bawa tong sampah ke mana-mana.
LGD gue berjalan dengan baik, untuk kelompok. Tapi tidak berjalan dengan baik untuk gue. Gue cenderung diem, dan ngasih masukan cuman sebiji dua biji. Dan gue tau kayaknya gue berada di peringkat paling bawah di antara semua anggota kelompok (soalnya selain dinilai juri, dinilai oleh temen sendiri).
Temen LGD gue nanya : "habis cacar ya?"
Gue : "iya"
Sebelah gue langsung geser bangku menjauh beberapa senti.
Tes tahap 5 : Wawancara User
Gue secara menakjubkan lolos LGD. Gue padahal merasa gue paling tolol dan jelek di antara mereka semua. Entah mengapa. Mungkin jurinya mau nulis angka 3, tapi Tuhan nambahin garisnya jadi 8. Entah. Tapi kalo kata pacar ane yang punya bisnis juga, kalo LGD jangan terlalu mendominasi, nanti bakal keliatan banget carmuknya. Mending jadi pendengar, kasi usul sedikit tapi bermanfaat. Kalo lo cuman ngoceh ga ada isinya, bakal dianggep cuman bisa bacot tapi ngga bisa mikir. Itu aja sih kata pacar saya.
Tahap wawancara ini gue statusnya udah kerja di Paramount Land. Gue kucing-kucingan sama GM gue buat berangkat tes. GM gue rajin bed lagi di kantor, trus gue sulit berbohong. Mungkin alasan-alasan gue keliatan bokisnya.
Gue dijadwalkan jam 8 wawancara, eh ternyata sodara-sodara, saya dapet urutan 6 dari 10 orang. Oh iya kalo engga salah nih tersisa 650 orang seluruh indonesia. Artinya masih 1 vs 2 orang untuk bisa lolos.
Gue baru dapet jatah wawamcara jam 1.30 setelah maksi. Kasian banget lakik gue nungguin gue kelar wawancara.
wawancara gue berlangsung aneh. Karena gue dihadapkan pada pertanyaan tersulit sepanjang hidup : "kamu dari tata kota dan arsitek, kenapa mau masuk ke OJK".
Gue ngga ngerti harus jawab apa akhirnya gue jawab dengan lugu dan polos "Jadi saya pas itu lagi nyari kerjaan, nemu OJK jadi popular jobs di jobscdc,com, dan di situ saya belum tau apa itu OJK". Sontak juri-juri ketawa. Mereka nanya-nanyain lebih ke seputar kehidupan gue. Trus karena gue pernah di prancis, mwreka nanya seputar hidup gue disana. Gue jadi banyak cerita tentang gue harus bertahan hidup dengan beasiswa terlambat, ngga makan, dan kengerian hidup selama di sana. Trus mereka juga nanya apa yng membuat Indonesia tidak semaju perancis. Gue bilang sih mentalnya, gue kasih contoh-contoh. Di situ kayaknya mereka lagi nguji kemampuan analisa gue. Trus gue ditanya nih seorang karyawan itu harus memiliki apa, gue bilang integritas dan kejujuran. Mungkin di situ nilai plus gue. Mungkin
Gue merasa down karena pas dikasih kesempatan nanya balik ke OJK, gue nanyain pertanyaan bodoh dan menurut gue itu konyol banget. Trus gue selesai lebih cepet dari lainnya. Biasanya kalo lebih cepet, itu tanda-tanda mereka ngga tertarik.
Tapi, ternyata tidak... Gue lolos lagi.
Tahap 6 Tes Kesehatan dan MMPI
Gue dinyatakan lolos ke tes terakhir. Tes-tes sebelumnya gue bisa dibilang ngga siapin apa-apa. tapi kalo yang ini, gue harus siapin. Kenapa? Karena tes terakhir. Kalo sampe gagal kan nggak lucu. Apalagi cuman gara-gara badan gue yang berantakan. Gue sempet loh berdoa biar ngga diterima, tapi kali ini gue akan berjuang sepenuh jiwa dan tetap berpasrah.
Di tes ini, gue kembali kucing-kucingan sama GM gue. Gue bilang ke bos kalo gue ngurus ijasah di dikti. Padahal ijasah gue masih terpendam dan terkubur dalam-dalam di lemarinya dikti/ Tanggal 9 desember, gue tes kesehatan raga dulu.
Gue dikasih tau hari jumat sore, dan gue tes kesehatan hari Selasa. Gue punya waktu 3 hari untuk prepare. Gue harus prepare. Karena badan gue udah ancur banget. Gue makan cuman indomi, jarang OR, jarang minum, suka ngemil, tidur larut malem, duh pokoknya amburadul deh.
Selama 3 hari, gue jogging pagi di Gading Serpong. Gue minum air putih 2 liter biar urine gue jernih dan layak diminum kembali. Gue menghindari gorengan. Gue nggak makan nasi dan nggak ngemil. Gue ke kantor bawa salad sama keju doang. Makan buah terus. Minum dulcolax (gue bersihin perut gue). Dan yang peling penting, gue menyiapkan mental menghadapi JARUM SUNTIK. Gue phobia banget. Sekali gue periksa darah, gue pingsan.
Tes kesehatan ini gue dateng kepagian. Tapi nomor urut sesuai kedatangan. Jadi sebaiknya dateng pagi-pagi soalnya sekali kloter itu ada 125 an orang. Kebayang ngantrinya.
Pertama-tama, gue bakal dicoblos jarum. Gue bilang sama susternya, "Mbak ajak ngobrol saya mbak, saya takut beginian". Untungnya dia baek. Gue merem sambil ngobrol santai, dia nanya-nanya hal-hal ringan. Eh ngga berasa tau-tau udah kelar. Tes urin berikutnya gue takjub sama kejernihan urin gue. trus tes tekanan darah. Gue rada was-was karena tensi gue 132/80. Trus tes BB/TB, gue berasa rada obesitas, 69/170. Trus tes jantung, paru-paru, ama mata.
Tes MMPI atau kesehatan jiwa. Gue sih coba search dikit di internet, ternyata itu buat ngetes apakah kita punya potensi penyakit jiwa. Nah loh, gue kadang suka ngoceh sama tembok en kucing gue, jangan-jangan gue punya skizofren. Tes MMPI dillakukan besoknya jam 8. Eh tapi petugas dari RSJ baru dateng jam 8.30 gara-gara kena macet. Omaigot. Ngeliat petugas RSJ, naluri gue adalah bersembunyi, takut ditangkap.
Soal tes MMPI ada 200an. Suruh memilih ya/tidak. Ada pernyataan, pilih ya jika sesuai dengan kita. Pilih tidak kalo engga sesuai dengan kita. Gue bilang pertanyaan nya aneh-aneh. Misalnya nih, "saya sering mendengar suara-suara yang tidak didengar orang lain". Itu tiap malem juga iya. Di tengah keheningan malam, gue sering mendengar suara "krucuk krucuk" dari perut, lalu gue bergegas masak mi.
Hmm katanya sih jawab yang jujur, karena katanya bakal ketauan kalo bokis. Di hasilnya bakalan ngga match gitu. Gue jujur kok. Ada pernyataan "Saya sering sakit kepala". Gue jawab "iya" soalnya hampir tiap hari gitu, apalagi tanggal tua.
Tes MMPI cepet kok. Lo njawabnya ga perlu mikir, langsung coret aja. Paling 30 menit kelar. Begitu kelar, langsung boleh pulang. Gue sempet kok jam 10 dari Blok M, nyampe jam 12 di dusun Serpong untuk kembali bekerja.
Dan, saudara-saudara, saya dinyatakan lolos jadi Calon Staf di OJK.
Bulan Maret bakal mulai pendidikan trus setahun kemudian pengangkatan. Gue harus melepas kepegawaian gue di Paramount Land dan Status Dosen Tidak Tetap di Tarumanagara. Sayang sih. Btw untuk kedua kalinya gue gagal menggapai cita-cita menjadi dosen. Tapi tak apalah, mungkin memang jalannya.
Gue ngambil OJK bukan karena napsu gue buat jadi pejabat. Gue ngambil karena gue merasa telah ditunjukkan jalan ini oleh Tuhan. Gue 100% berbekal kepasrahan di semua tahapan tes, tapi gue dinyatakan masuk. Siapa lagi yang bekerja kalau bukan Tuhan? Itu aja kok.
Lagian gue juga was-was dengan pengetahuan perbankan yang 0 bulat.Sampe kemaren pas pemberkasan, gue diapalin sama Bu Denise dari DSDM. Doi bilang "mbak arsitek? Mbak Kiki ya? Nanti siap kan kalo di sini ngurusin keuangan?".. Siap-siapin deh ya.
Buat yang mau tes OJK batch berikutnya, good luck!
Gue mau masak dulu. Mumpung libur nih udah resign dari Paramount. :p
Gue engga akan berbagi tips dan strategi disini karena emang engga ada strategi khusus. Gue ngga ada belajar, ngga ada doa kenceng2, ngga ada persiapan apa2, gue cuman mengikuti jalan yang dikasih Tuhan aja. Tapi mungkin cerita gue bakal bermanfaat buat kalian yang bener-bener niat masuk ke OJK
Semua kisah gue bermula dari kerinduan gue beraktifitas kembali setelah bored banget jadi pengangguran. Gue pulang dari Perancis bulan Juli, dan sampe Agustus gue masih hura-hura sama pacar. Lama-lama gue bosen juga. Gue pengen jadi dosen sebenernya, atau kuliah S3. Tapi gue berasa gagal muluk cari beasiswa, padahal gue udah punya 4 sekolahan di perancis ama jerman yang mau nerima gue (malah curhat).Lalu dengan demikian gue jadi demen buka-buka situs lowongan kerja. Gue masukin lowongan-lowongan ke berbagai tempat kayak developer-developer, trus universitas, dan termasuk OJK.
Gue ngeliat di situs jobscdc.com, rekrutmen OJK yang ngambil hampir untuk all diciplines, jadi popular jobs. Ya kalo di twit, doi jadi trending topic lah. Gue lantas maen apply-apply aja. All dicipline kok ya, untung-untungan aja. Dan saat itu, GUE ENGGA TAU OJK ITU APA.
Tanggal 14/15 oktober gitu gue mendadak dapet SMS dari PPM ASSESMEN SDM. Doi bilang, gue suruh liat hasil seleksi tahap I OJK. Hah? Apa ya? Gue amnesia. Gue buka situsnya, log in pake ID gue seperti yang diminta, lalu gue dapet pernyataan bahwa gue lolos seleksi administrasi (tahap I) dan gue berhak ikut psikotesnya tahap II. Dan gue juga lupa bahwa gue milih Jakarta sebagai lokasi tes. Indah banget. Tanggal 17 gue harus berbondong-bondong ke Jakarta. Secara, domisili gue emang di Semarang. Tapi entah mengapa gue milih Jakarta sebagai lokasi tes. Tapi untungnya kepergian gue bertepatan dengan panggilan wawancara dari Paramount Land. Jadi ya lumayanlah jabanin dua-duanya.
Tes Tahap 2 : Psikotes Memeras Otak dan Verifikasi Berkas
Gue dapet tempat di LPPI Kemang. Dengan kostum putih item seperti yang disyaratkan, gue kebagian yang jam 1 an gitu. Konon kata si pengawas tes, pas tahap administrasi ada 41 ribu pelamar. Trus sekarang disaring TINGGAL 29 ribu pelamar. Gue ngga kebayang ngoreksi hasil psikotes untuk 29 ribu manusia. Bisa tirakatan nih. Gue merasa biasa aja ngadepin psikotes. Yah secara gue udah pernah ngadepin BCA dan Perumnas punya, tapi kayaknya lebih sadis dikit. Yang bikin tangan dan dengkul gue pegel (maap soalnya otak gue di dengkul jadi kalo kebanyakan mikir, dengkul gue kram), adalah si ngitung-ngitung di kertas A3.Sekalinya gue kebayang Colin Farrell di kepala gue, langsung buyar semua itungan. Dilarang ngelanjor atau mikirin orang ganteng selama tes ngitung-ngitung ini.
Verifikasi berkas asli sih doi cuma ngecekin jurusan sama IPK kita sesuai ngga antara yang kita apply online sama kenyataan di ijasah.
Btw disini gue pake ijasah S2 gue di Indo, yang di perancis masih dalam proses pelaknatan eh penyetaraan di dikti yang udah berbulan-bulan kaga kelar.
Tes tahap 3 : Psikotes lagi naudzubillah min zalik, pengetahuan umum, bahasa enggres, dan verifikasi berkas (again?)
Gue dinyatakan lolos ke psikotes lainnya + tes pengetahuan umum + enggres. Asal lo tau, gue kepikiran "tes pengetahuan umum = literally umum". ternyata engga. Pengetahuan umum itu seharusnya Pengetahuan Umum ke-OJK-an. Mati aja. Gue tau ini pas gue udah 5 menit menuju tes. Gue dapet shift ke 2 yang notabene jam 1 siang. Berhubung ternyata molor banget, shift 1 aja baru kelar jam 1. Trus kudu nunggu orang PPM pada lunch break. Jadilah baru mulai jam 2.
Gue tau kalo itu ke OJK an gara-gara ada anak yang nanya ke temennya dari shift 1. Kata temennya sih seputar OJK, dan kata temennya lagi, dia mau mampus ngerjainnya. Gue langsung sakratul maut. 5 menit sebelum masuk gue buru-buru buka BB jadul gue buat liat situs OJK. Paling ngga gue tau kepanjangan OJK dan didirikan tahun berapa.
Ternyata ngga hanya seputar ke OJK an, tapi seputar perbankan juga. Isinya bahasa-bahasa dari planet api yang gue ngga ngerti apaan. Gue sukses ngitung kancing buat ngerjainnya.
Pertama-tama lo akan dikasih psikotes yang nggambar-nggambar dan soal-soal psikotes lain. Trus lo akan dicekokin tes pengetahuan OJK. Lalu bahasa enggres. Nah sebelum mulai tes psikologi, kalian akan diminta nunjukin sertifikat toefl. Sukur kalo punya yak, sebab kalo dirasa memenuhi syarat, bisa bebas ngga ikut tes bahasa inggris. Toefl gue pas itu cuma 537 tapi boleh ngga ikut tes. Walhasil gue jam 6 sore udah boleh pulang dengan beberapa temen lain yang juga udah pake toefl. Saran gue, kalo niat banget ke OJK, tes toefl aja dulu. Selain sertifikatnya bisa dipake, kalian ngga perlu bertaruh nyawa buat tes bahasa inggris, dan paling penting : BOLEH PULANG DULUAN.
Tes tahap 4 : Leaderless Group Discussion.
Jujur gue paling benci kalo tes dimanapun ada beginian. Karena beberapa hal : Satu, gue ngga suka diskusi. Dua, gue ngga suka ngomong. Tiga, lo bakal menemukan orang-orang yang carmuk di depan juri, alias dia akan berusaha untuk menguasai diskusi supaya nilainya bagus dan orang lain ngga akan dikasih kesempatan buat ngomong.
Yang paling fuck up adalah : GUE LAGI KENA CACAR. Baru seminggu sakit, gue udah harus naik kereta ke jakarta. Gue ogah sebenernya, tapi pacar gue maksa-maksa. Doi bilang, OJK gajinya gedhe loh. Oke. Gue dengan bentol-bentol di sekujur tubuh pun berangkat ke kantor PPM buat LGD.
Gue bentol-bentol dan gue bau karena seminggu ngga boleh mandi. Gue merasa gue bawa tong sampah ke mana-mana.
LGD gue berjalan dengan baik, untuk kelompok. Tapi tidak berjalan dengan baik untuk gue. Gue cenderung diem, dan ngasih masukan cuman sebiji dua biji. Dan gue tau kayaknya gue berada di peringkat paling bawah di antara semua anggota kelompok (soalnya selain dinilai juri, dinilai oleh temen sendiri).
Temen LGD gue nanya : "habis cacar ya?"
Gue : "iya"
Sebelah gue langsung geser bangku menjauh beberapa senti.
Tes tahap 5 : Wawancara User
Gue secara menakjubkan lolos LGD. Gue padahal merasa gue paling tolol dan jelek di antara mereka semua. Entah mengapa. Mungkin jurinya mau nulis angka 3, tapi Tuhan nambahin garisnya jadi 8. Entah. Tapi kalo kata pacar ane yang punya bisnis juga, kalo LGD jangan terlalu mendominasi, nanti bakal keliatan banget carmuknya. Mending jadi pendengar, kasi usul sedikit tapi bermanfaat. Kalo lo cuman ngoceh ga ada isinya, bakal dianggep cuman bisa bacot tapi ngga bisa mikir. Itu aja sih kata pacar saya.
Tahap wawancara ini gue statusnya udah kerja di Paramount Land. Gue kucing-kucingan sama GM gue buat berangkat tes. GM gue rajin bed lagi di kantor, trus gue sulit berbohong. Mungkin alasan-alasan gue keliatan bokisnya.
Gue dijadwalkan jam 8 wawancara, eh ternyata sodara-sodara, saya dapet urutan 6 dari 10 orang. Oh iya kalo engga salah nih tersisa 650 orang seluruh indonesia. Artinya masih 1 vs 2 orang untuk bisa lolos.
Gue baru dapet jatah wawamcara jam 1.30 setelah maksi. Kasian banget lakik gue nungguin gue kelar wawancara.
wawancara gue berlangsung aneh. Karena gue dihadapkan pada pertanyaan tersulit sepanjang hidup : "kamu dari tata kota dan arsitek, kenapa mau masuk ke OJK".
Gue ngga ngerti harus jawab apa akhirnya gue jawab dengan lugu dan polos "Jadi saya pas itu lagi nyari kerjaan, nemu OJK jadi popular jobs di jobscdc,com, dan di situ saya belum tau apa itu OJK". Sontak juri-juri ketawa. Mereka nanya-nanyain lebih ke seputar kehidupan gue. Trus karena gue pernah di prancis, mwreka nanya seputar hidup gue disana. Gue jadi banyak cerita tentang gue harus bertahan hidup dengan beasiswa terlambat, ngga makan, dan kengerian hidup selama di sana. Trus mereka juga nanya apa yng membuat Indonesia tidak semaju perancis. Gue bilang sih mentalnya, gue kasih contoh-contoh. Di situ kayaknya mereka lagi nguji kemampuan analisa gue. Trus gue ditanya nih seorang karyawan itu harus memiliki apa, gue bilang integritas dan kejujuran. Mungkin di situ nilai plus gue. Mungkin
Gue merasa down karena pas dikasih kesempatan nanya balik ke OJK, gue nanyain pertanyaan bodoh dan menurut gue itu konyol banget. Trus gue selesai lebih cepet dari lainnya. Biasanya kalo lebih cepet, itu tanda-tanda mereka ngga tertarik.
Tapi, ternyata tidak... Gue lolos lagi.
Tahap 6 Tes Kesehatan dan MMPI
Gue dinyatakan lolos ke tes terakhir. Tes-tes sebelumnya gue bisa dibilang ngga siapin apa-apa. tapi kalo yang ini, gue harus siapin. Kenapa? Karena tes terakhir. Kalo sampe gagal kan nggak lucu. Apalagi cuman gara-gara badan gue yang berantakan. Gue sempet loh berdoa biar ngga diterima, tapi kali ini gue akan berjuang sepenuh jiwa dan tetap berpasrah.
Di tes ini, gue kembali kucing-kucingan sama GM gue. Gue bilang ke bos kalo gue ngurus ijasah di dikti. Padahal ijasah gue masih terpendam dan terkubur dalam-dalam di lemarinya dikti/ Tanggal 9 desember, gue tes kesehatan raga dulu.
Gue dikasih tau hari jumat sore, dan gue tes kesehatan hari Selasa. Gue punya waktu 3 hari untuk prepare. Gue harus prepare. Karena badan gue udah ancur banget. Gue makan cuman indomi, jarang OR, jarang minum, suka ngemil, tidur larut malem, duh pokoknya amburadul deh.
Selama 3 hari, gue jogging pagi di Gading Serpong. Gue minum air putih 2 liter biar urine gue jernih dan layak diminum kembali. Gue menghindari gorengan. Gue nggak makan nasi dan nggak ngemil. Gue ke kantor bawa salad sama keju doang. Makan buah terus. Minum dulcolax (gue bersihin perut gue). Dan yang peling penting, gue menyiapkan mental menghadapi JARUM SUNTIK. Gue phobia banget. Sekali gue periksa darah, gue pingsan.
Tes kesehatan ini gue dateng kepagian. Tapi nomor urut sesuai kedatangan. Jadi sebaiknya dateng pagi-pagi soalnya sekali kloter itu ada 125 an orang. Kebayang ngantrinya.
Pertama-tama, gue bakal dicoblos jarum. Gue bilang sama susternya, "Mbak ajak ngobrol saya mbak, saya takut beginian". Untungnya dia baek. Gue merem sambil ngobrol santai, dia nanya-nanya hal-hal ringan. Eh ngga berasa tau-tau udah kelar. Tes urin berikutnya gue takjub sama kejernihan urin gue. trus tes tekanan darah. Gue rada was-was karena tensi gue 132/80. Trus tes BB/TB, gue berasa rada obesitas, 69/170. Trus tes jantung, paru-paru, ama mata.
Tes MMPI atau kesehatan jiwa. Gue sih coba search dikit di internet, ternyata itu buat ngetes apakah kita punya potensi penyakit jiwa. Nah loh, gue kadang suka ngoceh sama tembok en kucing gue, jangan-jangan gue punya skizofren. Tes MMPI dillakukan besoknya jam 8. Eh tapi petugas dari RSJ baru dateng jam 8.30 gara-gara kena macet. Omaigot. Ngeliat petugas RSJ, naluri gue adalah bersembunyi, takut ditangkap.
Soal tes MMPI ada 200an. Suruh memilih ya/tidak. Ada pernyataan, pilih ya jika sesuai dengan kita. Pilih tidak kalo engga sesuai dengan kita. Gue bilang pertanyaan nya aneh-aneh. Misalnya nih, "saya sering mendengar suara-suara yang tidak didengar orang lain". Itu tiap malem juga iya. Di tengah keheningan malam, gue sering mendengar suara "krucuk krucuk" dari perut, lalu gue bergegas masak mi.
Hmm katanya sih jawab yang jujur, karena katanya bakal ketauan kalo bokis. Di hasilnya bakalan ngga match gitu. Gue jujur kok. Ada pernyataan "Saya sering sakit kepala". Gue jawab "iya" soalnya hampir tiap hari gitu, apalagi tanggal tua.
Tes MMPI cepet kok. Lo njawabnya ga perlu mikir, langsung coret aja. Paling 30 menit kelar. Begitu kelar, langsung boleh pulang. Gue sempet kok jam 10 dari Blok M, nyampe jam 12 di dusun Serpong untuk kembali bekerja.
Dan, saudara-saudara, saya dinyatakan lolos jadi Calon Staf di OJK.
Bulan Maret bakal mulai pendidikan trus setahun kemudian pengangkatan. Gue harus melepas kepegawaian gue di Paramount Land dan Status Dosen Tidak Tetap di Tarumanagara. Sayang sih. Btw untuk kedua kalinya gue gagal menggapai cita-cita menjadi dosen. Tapi tak apalah, mungkin memang jalannya.
Gue ngambil OJK bukan karena napsu gue buat jadi pejabat. Gue ngambil karena gue merasa telah ditunjukkan jalan ini oleh Tuhan. Gue 100% berbekal kepasrahan di semua tahapan tes, tapi gue dinyatakan masuk. Siapa lagi yang bekerja kalau bukan Tuhan? Itu aja kok.
Lagian gue juga was-was dengan pengetahuan perbankan yang 0 bulat.Sampe kemaren pas pemberkasan, gue diapalin sama Bu Denise dari DSDM. Doi bilang "mbak arsitek? Mbak Kiki ya? Nanti siap kan kalo di sini ngurusin keuangan?".. Siap-siapin deh ya.
Buat yang mau tes OJK batch berikutnya, good luck!
Gue mau masak dulu. Mumpung libur nih udah resign dari Paramount. :p
Sabtu, 22 Juni 2013
Ketika Gue Nyaris Ketangkep Controller Tiket Tram
Gue baru aja menginjakkan kaki di kamar baru gue (baru dibersihin, maksudnya). Kemaren gara2 gue ngimpi hantu si penunggu rumah nyamperin kamar gue terus nyuruh gue ngebersihin kamar, jadilah gue langsung beresin tu kamar sesaat setelah gue melek. Sekarang kamar gue nampak lebih menawan dan sophisticate.. (sophisticate tu apa ya?).. sekarang lebih nampak kayak ruang tamu daripada kamar. Baguslah untuk mendukung program pemerintah menggalakkan wajib belajar menjelang sidang tesis. Meskipun akhirnya sama aja, gue tetep pules kalo ngadep leptop.
Anyway, gue baru mengalami kejadian laknat dan terkutuk pagi ini. Gue kan jam 9 pagi ada janjian ama direkturnya Alliade Habitat (itu loh yang punya apartemen2 sosial di Lyon). Gue kan lagi eksis di dunia per-apartemen-an sosial, jadi wajar lah kalo ampe ketemuan ama si direktur. Mungkin gue berpeluang direkrut jadi tukang kuras WC di apartemen mereka. Nah abis ketemuan, gue pulang naek tram. Gue tau gue nggak bertiket, tapi gue mau hemat tenaga karena gue mau lembur, jadinya gue naek tram. Gue ngambil sepeda dulu dari kantor Alliade ke Part Dieu (ngejar tram T3). Pas nyampe part dieu, gue inget gue janji ngirim nyokap gue uang. Note : Gue emang lagi ngga punya uang banget. Uang sewa kos gue yang juga masih kurang, akhirnya gue kasihin nyokap gue karena gue tau dia lebih butuh. Yaudah dengan sepenuh jiwa, gue ngambil tram T1 dari Part Dieu ke Guillotiere (nyari moneygram). Niat gue awalnya nyari moneygram di part dieu, ternyata ngga ada. Titik terdekat ya moneygram langganan gue di Guillotiere. Note again : gue langganan NGIRIM uang buat nyokap gue, bukan sebaliknya.
Abis dari moneygram, gue balik lagi naek tram T1 ke Part Dieu. kira2 beberapa meter sebelum stasiun Part DIeu, gue udah ngeliat makhluk2 menyeramkan dengan ciri : berbaju abu-abu hitam, berwajah sangar, bergerombol, dan membawa senjata berbahaya berupa mesin skan tiket. MAMPUS! CONTROLLER! Dan itu jumlahnya naudzubillah BANYAAAKK!! Gue berasa bakal ada pengepungan besar2an. Insting dan kewaspadaan gue terhadap predator pun bekerja, gue buru2 ngerogoh dompet kosong gue buat ngambil selembar tiket yang belum gue validasi. Pas mau gue masukin mesin : ANJING! MESINNYA DIBLOKIR! Jadi rupanya si masinis udah matiin mesinnya sebelum sampe stasiun. akhirnya : gue pasrah.
Tram perlahan-lahan mendekati stasiun, dan gerombolah makhluk bertaring bernama controller mulai menyebar, membentuk formasi pengepungan pintu tram. Udah deh pancung aja gue sekarang juga. Siapa pun pancung gue! Gue kebayang denda 60 euro yang gue kudu bayar. Gue perhatikan gerak gerik kontroler. Apakah mereka meriksa orang yang turun ato mereka masuk. Kalo meriksa yang turun, gue bakal stay. Kalo mereka mau masuk, gue bakal ikutan ngibrit. Menenteng2 tiket, gue berdiri cakep memperhatikan alunan langkah para predator.
MEREKA MERIKSA ORANG YANG KELUAR! Oke, gue putuskan gue tetep stay di dalem. Kebetulan Part Dieu adalah kawasan rame, jadi banyak banget yang keluar. Gue mondar-mandir panik di dalem tram. Dan gue makin sakratul maut ketika mendapati : KONTROLER NYA MULAI MASUK, MERIKSAIN PENUMPANG DI DALEM.
TAMAT UDAH RIWAYAT GUE!
Deretan bangku belakang gue udah mulai diperiksa. Gue harus lari ke mana. Apakah gue harus turun? Nggak! Nggak bisa! Kontroler masih terpampang dengan gagah di setiap pintu tram.
Atau gue harus duduk? Atau gue harus peluk orang ganteng? Ato gue harus bunuh diri di tempat daripada kena 60 euro?
Gue masih mondar mandir di dalam tram.
Seorang kontroler ngelewatin muka gue, tapi dia nggak nanyain tiket gue. Gue diem aja. Kata Discovery Channel, kalo ada beruang, diem aja biar ngga diterkam. Jadi gue pun diem, berusaha se-invisible mungkin. Mbak2 yang awalnya bediri di sebelah gue, udah kena kontroler. Gue belom kena karena gue moving. Kalo ngga, udah pasti gue dimangsa.
tram mulai sepi, kontroler mulai merambah masuk. Gue semakin terhimpit.
Tapi Tuhan masih sayang gue.
Di pintu kedua dari depan, kontroler nya udah kelar meriksain tiket, dan penumpang baru mulai masuk. Gue punya ide : GUE BERGABUNG DENGAN MEREKA. Gue pun membaur dengan rombongan yang baru masuk. Mereka mau validasi tiket di mesin, tapi mesinnya masih dimatiin.
"Kok ngga bisa mesinnya?" tanya ibu2.
"Iya nih, gue mau validasi juga ngga bisa. Mesin yang sebelah sana juga ngga bisa" --> sandiwara ala gue. Padahal gue daritadi di tram.
"Oh mesinnya emang kita matiin sebentar" kata om kontroller yang garang.
Lalu kontroler2 pada keluar, karena ngerasa udah meriksa semua makhluk di dalam tram. Padahal gue belom. Mereka mulai sibuk ngurusin orang2 gak bertiket yang ketangkep. Begitu pintu tram kembali tertutup dan tramnya jalan, gue tenang. Gue akhirnya ngelanjutin naek tram ampe 1 stasiun setelahnya, tanpa nge-validasi tiket. Gapapa meski harus jalan lagi. Yang penting : GUE SELAMET.
Kebayang ngga sih deg-deg an nya kayak apa?
Kontroler sliwar sliwer di depan kamu, mesin validasi mati, kamu ngga bisa keluar maupun stay di dalem. Pengalaman seru banget buat gue ceritain ke anak cucu.
Kesimpulan : "Kalo mau ke part dieu, turunlah 1 stasiun sebelumnya. Jalan dikit gapapa daripada kena 60 euro ato sport jantung kayak pengalaman yang telah terjadi!"
Anyway, gue baru mengalami kejadian laknat dan terkutuk pagi ini. Gue kan jam 9 pagi ada janjian ama direkturnya Alliade Habitat (itu loh yang punya apartemen2 sosial di Lyon). Gue kan lagi eksis di dunia per-apartemen-an sosial, jadi wajar lah kalo ampe ketemuan ama si direktur. Mungkin gue berpeluang direkrut jadi tukang kuras WC di apartemen mereka. Nah abis ketemuan, gue pulang naek tram. Gue tau gue nggak bertiket, tapi gue mau hemat tenaga karena gue mau lembur, jadinya gue naek tram. Gue ngambil sepeda dulu dari kantor Alliade ke Part Dieu (ngejar tram T3). Pas nyampe part dieu, gue inget gue janji ngirim nyokap gue uang. Note : Gue emang lagi ngga punya uang banget. Uang sewa kos gue yang juga masih kurang, akhirnya gue kasihin nyokap gue karena gue tau dia lebih butuh. Yaudah dengan sepenuh jiwa, gue ngambil tram T1 dari Part Dieu ke Guillotiere (nyari moneygram). Niat gue awalnya nyari moneygram di part dieu, ternyata ngga ada. Titik terdekat ya moneygram langganan gue di Guillotiere. Note again : gue langganan NGIRIM uang buat nyokap gue, bukan sebaliknya.
Abis dari moneygram, gue balik lagi naek tram T1 ke Part Dieu. kira2 beberapa meter sebelum stasiun Part DIeu, gue udah ngeliat makhluk2 menyeramkan dengan ciri : berbaju abu-abu hitam, berwajah sangar, bergerombol, dan membawa senjata berbahaya berupa mesin skan tiket. MAMPUS! CONTROLLER! Dan itu jumlahnya naudzubillah BANYAAAKK!! Gue berasa bakal ada pengepungan besar2an. Insting dan kewaspadaan gue terhadap predator pun bekerja, gue buru2 ngerogoh dompet kosong gue buat ngambil selembar tiket yang belum gue validasi. Pas mau gue masukin mesin : ANJING! MESINNYA DIBLOKIR! Jadi rupanya si masinis udah matiin mesinnya sebelum sampe stasiun. akhirnya : gue pasrah.
Tram perlahan-lahan mendekati stasiun, dan gerombolah makhluk bertaring bernama controller mulai menyebar, membentuk formasi pengepungan pintu tram. Udah deh pancung aja gue sekarang juga. Siapa pun pancung gue! Gue kebayang denda 60 euro yang gue kudu bayar. Gue perhatikan gerak gerik kontroler. Apakah mereka meriksa orang yang turun ato mereka masuk. Kalo meriksa yang turun, gue bakal stay. Kalo mereka mau masuk, gue bakal ikutan ngibrit. Menenteng2 tiket, gue berdiri cakep memperhatikan alunan langkah para predator.
MEREKA MERIKSA ORANG YANG KELUAR! Oke, gue putuskan gue tetep stay di dalem. Kebetulan Part Dieu adalah kawasan rame, jadi banyak banget yang keluar. Gue mondar-mandir panik di dalem tram. Dan gue makin sakratul maut ketika mendapati : KONTROLER NYA MULAI MASUK, MERIKSAIN PENUMPANG DI DALEM.
TAMAT UDAH RIWAYAT GUE!
Deretan bangku belakang gue udah mulai diperiksa. Gue harus lari ke mana. Apakah gue harus turun? Nggak! Nggak bisa! Kontroler masih terpampang dengan gagah di setiap pintu tram.
Atau gue harus duduk? Atau gue harus peluk orang ganteng? Ato gue harus bunuh diri di tempat daripada kena 60 euro?
Gue masih mondar mandir di dalam tram.
Seorang kontroler ngelewatin muka gue, tapi dia nggak nanyain tiket gue. Gue diem aja. Kata Discovery Channel, kalo ada beruang, diem aja biar ngga diterkam. Jadi gue pun diem, berusaha se-invisible mungkin. Mbak2 yang awalnya bediri di sebelah gue, udah kena kontroler. Gue belom kena karena gue moving. Kalo ngga, udah pasti gue dimangsa.
tram mulai sepi, kontroler mulai merambah masuk. Gue semakin terhimpit.
Tapi Tuhan masih sayang gue.
Di pintu kedua dari depan, kontroler nya udah kelar meriksain tiket, dan penumpang baru mulai masuk. Gue punya ide : GUE BERGABUNG DENGAN MEREKA. Gue pun membaur dengan rombongan yang baru masuk. Mereka mau validasi tiket di mesin, tapi mesinnya masih dimatiin.
"Kok ngga bisa mesinnya?" tanya ibu2.
"Iya nih, gue mau validasi juga ngga bisa. Mesin yang sebelah sana juga ngga bisa" --> sandiwara ala gue. Padahal gue daritadi di tram.
"Oh mesinnya emang kita matiin sebentar" kata om kontroller yang garang.
Lalu kontroler2 pada keluar, karena ngerasa udah meriksa semua makhluk di dalam tram. Padahal gue belom. Mereka mulai sibuk ngurusin orang2 gak bertiket yang ketangkep. Begitu pintu tram kembali tertutup dan tramnya jalan, gue tenang. Gue akhirnya ngelanjutin naek tram ampe 1 stasiun setelahnya, tanpa nge-validasi tiket. Gapapa meski harus jalan lagi. Yang penting : GUE SELAMET.
Kebayang ngga sih deg-deg an nya kayak apa?
Kontroler sliwar sliwer di depan kamu, mesin validasi mati, kamu ngga bisa keluar maupun stay di dalem. Pengalaman seru banget buat gue ceritain ke anak cucu.
Kesimpulan : "Kalo mau ke part dieu, turunlah 1 stasiun sebelumnya. Jalan dikit gapapa daripada kena 60 euro ato sport jantung kayak pengalaman yang telah terjadi!"
Rabu, 19 Juni 2013
Berjuang dengan dan untuk Tesis (edisi angket)
Hari ini gue lagi nyante.. abisnya kepala gue mau pecah gara2 kebanyakan ngurusin tesis. Padahal belom nyampe klimaksnya : nulis. Belom banget. Kalo udah masuk ke babak final bernama nulis, mungkin gue bakalan terkapar tiap hari, berjalan dengan kaki di atas, dan makan siang pake whiskas. Gue tetep aja ngga jauh2 dari tempat tongkrongan gue yang paling gaul : perpus. Gue mencoba bernostalgia ke tempat duduk gue minggu lalu, di mana topi ganteng gue ketinggalan. Dan udah nggak ada. Ya iyalah. Masih ngarepin.
Anyway, week end kemaren gue baru interpiu sama penghuni2 apartemen sosial, objek tesis gue. Gue udah parno aja kalo gue bakal jadi kayak sales kosmetik yang ketok2 pintu, pasang senyum manis dan menjijikkan, berbicara dengan nada yang bukan gue banget, trus abis ngoceh panjang lebar, endingnya cuman diusir. Untungnya nggak. Tapi ada beberapa orang aneh yang gue temuin :
Pas gue tiba di salah satu apartemen, gue cuman mendongkrok di depan pintu karena gue gak bisa masuk. Gue nunggu penghuni yang keluar ato masuk, trus gue nebeng masuk. Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Ada mas2 onta (arab, red) masuk en gue langsung ngebuntutin. Trus gue pede nanyain dia sambil jalan : "Lo penghuni di sini?"
"Iye. Knape?"
"Mau ngga ngisi angket gue? Gue ngadain penelitian bla bla bla" (gue males banget nulisnya soalnya kalo kalian baca, kalian bakal mendadak jijik sama gue).
"Boleh2..Ikut gue"
Matek lo, gue udah parno kan. Diajak ke apartemennya, trus gue diperkosa kan repot. Masak iya sama onta. Orang prancis yang ganteng en kaya baru mau #eeehhh...
Gue diajak masuk ke apartemennya. WOW kata gue.Ini apartemen sosial apa burjois sih, kok cakep bener. Okelah si mas ini ga punya barang/mebel, tapi kondisi rumahnya bagus banget. Cakepan rumah dia daripada rumah gue (apalagi kamar gue yang kayak tong sampah).
Dan gue bener2 was2 banget berada di dalem apartemen dia yang kosong melompong. Gue takut 2 hal : 1. diperkosa ma dia, 2. Ada setan nongol. Gue udah waspada setiap saat. Kebetulan tas gue beratnya 10 kilo. Kalo dia macem2, tinggal gue gampar. Sekali tampol, gue jamin dia koma 40 hari.
"Gue tapi harus pergi, kalo lo ambil nanti gimana?"
"yaudah.. kapan lo balik?"
"Malem tuh.. nanti lo telpon gue aja"
Dan dengan bodohnya kita tukeran nomer -____- demi apa kik...
Pas malemnya, gue telpon tu onta jablai. Dia bilang dia lagi di mol en nyuruh gue nyamperin. IH OGAH DEMI APA. Akhirnya gue bilang, gue samperin lo kalo di rumah. "gue ambil besok oke"
Besoknya, gue nelpon dia. Kaga diangkat. Eh siang bolong, dia nelpon. Gue bilang "gue mau ambil angket gue sekarang, gue ke rumah lo". Sampe di rumahnya, dia ngga ada. Kata dia, dia di COrdeliers en gue suruh nyamperin. OGAH BANGET! Untungnya batere gue abis, trus gue nggak jadi ngambil angket dia, gue nyebar angket ke tempat lain.
Sialnya, malemnya pas gue mo ke gereja, gue ketemu dia. KAMPRET!
"Lo tadi ke mana, ga bisa gue telpon"
"Batere gue abis"
"trus kapan lo mau ambil angket?"
"Besok dah ya"
Dan sampe detik ini, belom gue ambil2. Gue gak mau dipacarin onta. Nggak mau. Mending jomblo dah ya daripada dipacarin onta.
Penghuni aneh laennya adalah om2 onta, orang maroko. Dia ngira gue dari EDF (PLN nya prancis) mau minta faktur listriknya.. -____- Om om om, gue bukan tukang listrik om... Menurut gue, si om onta ini lumayan baik, meski agak aneh.. Dia mau banget ngisi angket gue sampe ditulisin banyak banget keluhan dia seputar apartemennya.
Gue ngga pernah bilang gue dari indonesia, tapi dia langsung bilang :
"aaah lo orang indonesia?"
"yoi"
"assalamualaikum.." trus ketawa bahagia.. -__-
"eeh.." hening.. "waalaikumsalam om".. trus gue masih berpikir kenapa dia jadi seheboh itu pas tau gue orang indonesia.
Trus dia ngobrol banyak ama gue, curhat seputar susahnya jadi orang imigran di prancis. Kata gue dalem hati, kalo susah ya balik gih om ke negara om..
"good luck ya buat tesisnya.. Insya allah"
"Amin om insya allah om" ---> tau2 jadi religius #demi angket
Pas akhir2, dia ngasi gue nomer telponnya..
"Ini nomer telpon gue. Nama gue Yousef. Kalo lo butuh bantuan, butuh nasihat, SMS ato telpon aja"
Gue langsung pasang muka serem. Gue demen om2, tapi ngga om2 onta yang tinggal di apartemen sosial. Itu murahan banget.
Lanjut dia, "lo ngga perlu takut. GUE HOMOSEKSUEL. Gue abis ikutan gay pride tadi pagi"
OH OKE. GUE CEPET2 KABUR.
Sebagian besar sih pada mau ngisi angket. Kecuali mak2 onta yang kayaknya kaya (gue ngintip dalem apartemennya yang mewah abis). Udah ngoceh panjang lebar ampe lidah gue terkepang, si mak cuman bilang "Gue gak punya waktu buat lo" . TUTUP PINTU.
Oke mak, pindah gih lo ke apartemen gak sosial. Mending rumahnya buat gue.
Nyebar angket itu gampang2 susah. Ada yang langsung ngisi, ada yang diambil besoknya. Tapi yang ngerepotin itu yang diambil "tar ya 30 menit lagi" ato "tar sore lo balik sini". Itu bener2 bikin gue kudu note baik2 permintaan mereka. Gue yang udah mau pulang, kudu balik lagi ke apartemen orang buat ngambil angketnya. Pusing banget.
Pusing gue ditambahin lagi "PUSING SECARA HARAFIAH" artinya gue beneran sakit kepala. Lyon lagi panas sekampret2nya nyampe 30an derajat, mataharinya sadis, anginnya panas membara. Dan gue kudu NAEK SEPEDA (sekali lagi, GARA2 BEASISWA UNGGULAN DIKNAS KAMPRET YANG GAK TURUN2). Kebayang ngga sih rasanya? Lo harus berpindah tempat dengan sepeda, di bawah panas terik, di bawah selangkangannya matahari yang membakar, trus kudu naek turun tangga di apartemen buat nyebarin angket, trus harus nyiapin ati sebadak2nya biar sabar ngadepin orang. Selama 6 jam perburuan gue, di menit2 terakhir, harapan gue cuman satu : "tolong pertemukan gue dengan kasur gue secepatnya". Jam 3 gue kelar, gue pulang, trus jam 6 gue harus keluar lagi ampe jam 9. Jam 9 ampe tengah malem, gue tidur pules (ato mungkin sebenernya mati suri). Jam 1 gue bangun buat ngerjain tesis gue lagi.
Dengan demikian, gue setidaknya tau bagaimana rasanya sakratul maut.
Anyway, week end kemaren gue baru interpiu sama penghuni2 apartemen sosial, objek tesis gue. Gue udah parno aja kalo gue bakal jadi kayak sales kosmetik yang ketok2 pintu, pasang senyum manis dan menjijikkan, berbicara dengan nada yang bukan gue banget, trus abis ngoceh panjang lebar, endingnya cuman diusir. Untungnya nggak. Tapi ada beberapa orang aneh yang gue temuin :
Pas gue tiba di salah satu apartemen, gue cuman mendongkrok di depan pintu karena gue gak bisa masuk. Gue nunggu penghuni yang keluar ato masuk, trus gue nebeng masuk. Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Ada mas2 onta (arab, red) masuk en gue langsung ngebuntutin. Trus gue pede nanyain dia sambil jalan : "Lo penghuni di sini?"
"Iye. Knape?"
"Mau ngga ngisi angket gue? Gue ngadain penelitian bla bla bla" (gue males banget nulisnya soalnya kalo kalian baca, kalian bakal mendadak jijik sama gue).
"Boleh2..Ikut gue"
Matek lo, gue udah parno kan. Diajak ke apartemennya, trus gue diperkosa kan repot. Masak iya sama onta. Orang prancis yang ganteng en kaya baru mau #eeehhh...
Gue diajak masuk ke apartemennya. WOW kata gue.Ini apartemen sosial apa burjois sih, kok cakep bener. Okelah si mas ini ga punya barang/mebel, tapi kondisi rumahnya bagus banget. Cakepan rumah dia daripada rumah gue (apalagi kamar gue yang kayak tong sampah).
Dan gue bener2 was2 banget berada di dalem apartemen dia yang kosong melompong. Gue takut 2 hal : 1. diperkosa ma dia, 2. Ada setan nongol. Gue udah waspada setiap saat. Kebetulan tas gue beratnya 10 kilo. Kalo dia macem2, tinggal gue gampar. Sekali tampol, gue jamin dia koma 40 hari.
"Gue tapi harus pergi, kalo lo ambil nanti gimana?"
"yaudah.. kapan lo balik?"
"Malem tuh.. nanti lo telpon gue aja"
Dan dengan bodohnya kita tukeran nomer -____- demi apa kik...
Pas malemnya, gue telpon tu onta jablai. Dia bilang dia lagi di mol en nyuruh gue nyamperin. IH OGAH DEMI APA. Akhirnya gue bilang, gue samperin lo kalo di rumah. "gue ambil besok oke"
Besoknya, gue nelpon dia. Kaga diangkat. Eh siang bolong, dia nelpon. Gue bilang "gue mau ambil angket gue sekarang, gue ke rumah lo". Sampe di rumahnya, dia ngga ada. Kata dia, dia di COrdeliers en gue suruh nyamperin. OGAH BANGET! Untungnya batere gue abis, trus gue nggak jadi ngambil angket dia, gue nyebar angket ke tempat lain.
Sialnya, malemnya pas gue mo ke gereja, gue ketemu dia. KAMPRET!
"Lo tadi ke mana, ga bisa gue telpon"
"Batere gue abis"
"trus kapan lo mau ambil angket?"
"Besok dah ya"
Dan sampe detik ini, belom gue ambil2. Gue gak mau dipacarin onta. Nggak mau. Mending jomblo dah ya daripada dipacarin onta.
Penghuni aneh laennya adalah om2 onta, orang maroko. Dia ngira gue dari EDF (PLN nya prancis) mau minta faktur listriknya.. -____- Om om om, gue bukan tukang listrik om... Menurut gue, si om onta ini lumayan baik, meski agak aneh.. Dia mau banget ngisi angket gue sampe ditulisin banyak banget keluhan dia seputar apartemennya.
Gue ngga pernah bilang gue dari indonesia, tapi dia langsung bilang :
"aaah lo orang indonesia?"
"yoi"
"assalamualaikum.." trus ketawa bahagia.. -__-
"eeh.." hening.. "waalaikumsalam om".. trus gue masih berpikir kenapa dia jadi seheboh itu pas tau gue orang indonesia.
Trus dia ngobrol banyak ama gue, curhat seputar susahnya jadi orang imigran di prancis. Kata gue dalem hati, kalo susah ya balik gih om ke negara om..
"good luck ya buat tesisnya.. Insya allah"
"Amin om insya allah om" ---> tau2 jadi religius #demi angket
Pas akhir2, dia ngasi gue nomer telponnya..
"Ini nomer telpon gue. Nama gue Yousef. Kalo lo butuh bantuan, butuh nasihat, SMS ato telpon aja"
Gue langsung pasang muka serem. Gue demen om2, tapi ngga om2 onta yang tinggal di apartemen sosial. Itu murahan banget.
Lanjut dia, "lo ngga perlu takut. GUE HOMOSEKSUEL. Gue abis ikutan gay pride tadi pagi"
OH OKE. GUE CEPET2 KABUR.
Sebagian besar sih pada mau ngisi angket. Kecuali mak2 onta yang kayaknya kaya (gue ngintip dalem apartemennya yang mewah abis). Udah ngoceh panjang lebar ampe lidah gue terkepang, si mak cuman bilang "Gue gak punya waktu buat lo" . TUTUP PINTU.
Oke mak, pindah gih lo ke apartemen gak sosial. Mending rumahnya buat gue.
Nyebar angket itu gampang2 susah. Ada yang langsung ngisi, ada yang diambil besoknya. Tapi yang ngerepotin itu yang diambil "tar ya 30 menit lagi" ato "tar sore lo balik sini". Itu bener2 bikin gue kudu note baik2 permintaan mereka. Gue yang udah mau pulang, kudu balik lagi ke apartemen orang buat ngambil angketnya. Pusing banget.
Pusing gue ditambahin lagi "PUSING SECARA HARAFIAH" artinya gue beneran sakit kepala. Lyon lagi panas sekampret2nya nyampe 30an derajat, mataharinya sadis, anginnya panas membara. Dan gue kudu NAEK SEPEDA (sekali lagi, GARA2 BEASISWA UNGGULAN DIKNAS KAMPRET YANG GAK TURUN2). Kebayang ngga sih rasanya? Lo harus berpindah tempat dengan sepeda, di bawah panas terik, di bawah selangkangannya matahari yang membakar, trus kudu naek turun tangga di apartemen buat nyebarin angket, trus harus nyiapin ati sebadak2nya biar sabar ngadepin orang. Selama 6 jam perburuan gue, di menit2 terakhir, harapan gue cuman satu : "tolong pertemukan gue dengan kasur gue secepatnya". Jam 3 gue kelar, gue pulang, trus jam 6 gue harus keluar lagi ampe jam 9. Jam 9 ampe tengah malem, gue tidur pules (ato mungkin sebenernya mati suri). Jam 1 gue bangun buat ngerjain tesis gue lagi.
Dengan demikian, gue setidaknya tau bagaimana rasanya sakratul maut.
Jumat, 07 Juni 2013
Hidup tanpa Kartu Transport : Sepeda, Jalan, atau jadi Penumpang Gelap
Hufff.. gue lagi nongkrong di sebuah tempat yang menyenangkan bernama : perpustakaan.. Yah itu kehidupan gue sehari2.. Kalo ngga di arsip munisipal, di perpus, ato nongkrongin om got (got disamakan dengan WC). Okey, fine, gue hidup gue monoton banget. Tapi nggak akan monoton sama sekali kalo lo nggak punya kartu transpor. Itulah yang sedang gue rasakan sangat berarti dalam idup gue. Kartu mungil berwarna merah bertuliskan Tecely, metro, bus, tram, apalah itu, kini sedang kosong. Kenapa bisa demikian? Semua sumber masalah idup gue di perancis (ga bisa makan, ga bisa naek bis, gak bisa boker, gak bisa bangun pagi) adalah berseumber dari BEASISWA DIKNAS KAMPRET GUE YANG NGGAK TURUN2 (sori gue caps lock, soalnya udah di ubun2.. coba diknas buka cabang di Lyon, udah bikin tenda kali gue di depan kantornya, nungguin beasiswa turun). Gue udah bener2 have no money. NO yah, bukan NOT MUCH, but NO.. Segala bentuk makanan gue, semuanya adalah sumbangan dari dermawan2 yang murah hati seperti mbak Shanny, Wika, Yasser, Gindo (Gindo mah sering banget gue curi makanannya), Nina (biasanya dia nyuri dari keluarga baby sittingnya buat dibagi ke gue). Kalo ngga ada mereka, mungkin gue udah mati di depan pintu rumahnya om got (harusnya gitu aja biar gue dipiara dia). Maka dari itu, jangankan buat kartu transport, buat makan aja ane gak punya..
Pernah nih ya, gue butuh banget kertas kalkir buat tesis gue, tapi duit gue tinggal 3,54 euro. Kalo gue belanjain kalkir, nanti gue nggak makan. Kalo gue makan, nanti tesis gue gak kegarap, gue dibunuh om got. Akhirnya gue beli kertas kalkir. Karena proses kematian yang disebabkan kelaparan itu lebih lama daripada proses kematian akibat dibunuh om got, jadi gue memilih kertas kalkir. Gue masih idup kan buktinya?
Gue berkali2 ngutang sama bank (oya, bank gue bisa ampe minus 400 saldonya, jadi ibaratnya kamu bisa ngutang bank). Udah 3 kali pula ATM gue diblokir karena minusnya udah maksimum. Gimana ngga maksimum, orang itu gue buat bayar kos. Soalnya si bapak kos ngomel mulu kalo gue kaga bayar2.
Endingnya, sekarang ATM gue kembali diblokir dan gue gak bisa bayar kartu transpor gue. Fine. Maka, terhitung sejak 1 juni 2013, gue udah ngga bisa menikmati metro, bus, ato tram, kecuali :
Nah gue ceritain kisah2 gue tanpa si kartu yahhh...
Pilihan pertama gue buat berpindah tempat adalah SEPEDA. Gue, berkat insting dan prediksi akurat gue (gue memprediksi gue bakal jatuh miskin sehingga gak bisa bayar kartu transpor) jadi gue memilih langganan sepeda dengan nominal 15 euro setahun. Langganan itu buru2 gue buat waktu gue masih ada sedikit uang. Sekarang, gue bahagia banget punya abonemen sepeda. Kalo ngga, mungkin gue menempuh rumah-kampus-rumah dan segala aktivitas lainnya dengan jalan kaki. Gue yakin 3 hari kemudian gue bakal mati.
Gue bukanlah orang yang menyerah. Gue tau gue ngga bisa ke mana2 tanpa kartu transpor, tapi gue HARUS BISA KE MANA2. Jadi meskipun jarak rumah-kampus gue itu sekitar 1 jam naek sepeda, gue tempuh dengan bahagia. Gue nggak mau angkrem di rumah kayak setannya yang jaga gudang rumah gue. Nggak, nanti gue diajak dia maen kartu kan gue serem.
Hari pertama gue menempuh rumah-arsip munisipal dengan sepeda (plus gambar2nya om got, leptop, buku2 laknat) dalam waktu 1 jam 07 menit. Gue laksanakan tanpa transit, kalo kata Air France, "vol direct". Lalu pulangnya gue juga menempuh kira2 50 menitan. Kurang sehat apa coba? Gue sepedaan sehari 2 jam...
Untungnya gue tinggal di Lyon yang punya sistem penyewaan sepeda self service yang keren banget. Dengan 346 stasiun sepeda dan 450 km jalur sepeda dan 2000 sepeda (gue tau banget karena PR gue dulu ngebahas ini), gue bisa berkelana Lyon dan Villeurbanne dengan makhluk ber-roda 2 ini. Dan segala aktivitas berpindah lainnya gue tempuh juga dengan sepeda. Misalnya dari kampus, gue ke perpus kota, gue harus ke arsip, ato harus ke tempat om got, gue jalani dengan sepeda!
Kemampuan naek sepeda gue meningkat. Misalnya sekarang gue menempuh kampus-rumah hanya 40 menitan. Trus gue mulai demen pake gigi 3, gigi yang berat tapi bikin cepet. Gue yakin pulang ke rumah gue bisa ngelamar jadi atlet sepeda Indonesia. Ato mungkin kalo gue naek becak, gue akan tukeran sama abangnya "Bang lo bawa becaknya pelan banget, sini gue aja yang gowes, lo yang duduk".
Alternatif selain bersepeda, adalah JALAN KAKI. Well, untuk jarak tempuh yang nggak panjang, ini pilihan yang enak. Karena bisa sambil liat2. Siapa tau ada orang ganteng yang bisa ditabrak trus dimintain nomer telepon. Gue nggak sanggup kalo jalankaki dari rumah ke kampus gue. Bisa mati. Apalagi dengan batu2 kali seberat 10 kg (tas gue dan segala isinya). Btw pernah gue timbang loh, tas gue beratnya 10 kilo. Impossible dah ya gue jalan. tapiiiii pernah sekali gue pulang dari cordeliers, gue jalan kaki ke rumah. Pas itu kira2 butuh 1 jam 33 menit. Anehnya, kaki gue ngga sakit. Tapi abis itu gue makan nasi sekalian mejik jer nya. Bener2 menguras tenaga.
Enaknya jalan kaki, kamu bakal tau jalan banget. Pernah gue jalan kaki dari Guillotiere ke resto U kampus di Garibaldi Berthelot. Karena gue sok tau, gue nyari jalan sendiri. Eh jadinya kejauhan. Gue udah filing harusnya gue belok kanan. tapi gue nurutin setan, gue ke kiri, jadilah melanglang jauh, hingga akhirnya gue balik dan kembali ke sekitaran Guillotiere. Nyasarnya lumayan kampret. Trus gue jalan lagi, dengan mengikuti kata malaikat, belok ke kanan. Nah barulah gue nyampe. Abis itu, di resto U, gue ngabisin makanan gue cuman 5 menit.
Gue sekarang sering banget jalan kaki. Dari Arsip ke kampus, gue prefer jalan kaki. Yeah gue bakal jadi student paling sehat dan paling hitam terbakar matahari. Mungkin kalo nanti pulang ke indo, nyokap bakal salah mengenali gue. Gue bakal dikira keripik paru berjalan.
Pilihan ketiga yang cukup ekstrim tapi lebih enak adalah : JADI PENUMPANG GELAP. Intinya kamu tetep naek bis/metro/tram tanpa tiket. Hingga detik ini, gue baru berani nyoba naek tram. Dan gue sukses. Karena sepanjang perjalanan, gue bertasbih, berdoa, baca alkitab, bakar dupa, segala macem biar ngga ada controlleur nongol (sejenis makhluk2 garang menantang yang kerjaannya masuk ke tram/metro/bis buat meriksain tiket). Beberapa tips seputar jadi penumpang gelap (berdasarkan apa yang gue lakukan di lapangan) :
1. Beli tiket 1 biji. Kantongin tiket ini baik2, harganya cuman 1,7 euro. Simpen di kantong, jangan dimasukin mesin validasi pas naek tram. Sayang. Simpen aja. Buat jaga2 doang.
2. Ngga usah tergoda buat nyari tempat duduk. Sebagai makhluk tak bertiket, kalian harus sadar diri : BERIDIRILAH DEKET MESIN VALIDASI. Jadi kalo pas di stasiun mana gitu ada kontroler nongol, kalian udah siap ngevalidasi tu tiket. Tapi selama gak ada kontroler, stay cool aja di sono.
3. Naek tram, pilih gerbong depan. Kenapa? Kalo pas mau nyampe stasiun2nya, kalian bisa ngeliat duluan apakah ada kontroler stand by di stasiun itu nggak. Kalo ada, kalian masih punya waktu buat ngevalidasi tiket, atao kalo ngga mau rugi, bisa turun langsung di tu stasiun. Karena biasanya kalo nggak stasiun terakhir, kontroler cuman meriksa mereka yang di tram, bukan yang keluar tram. Kalo mau lebih nekat, sebelum nyampe, buruan lompat dari tram.
4. Naek bis, naeklah dari pintu tengah atau belakang, barengan sama orang keluar. Karena kalo pintu depan, bakal dipelototin supirnya. Kalo di halte berikut2nya liat kontroler, buruan turun dan tunggulah bis berikutnya. Saran gue daripada rugi ngevalide tiket, mending turun dah ya. Untuk memudahkan kalian naek dari pintu tengah atau belakang, usahakan cari halte yang rame (banyak orang naek turun) jadi pintu tengah en belakang bakal dibuka. Kalo ngga, biasanya kalian "dipaksa" naek dari depan.
5. Naek metro, kalo kalian ngga mau mati,mending ngga usah. Karena kalo mau masuk stasiun metro, harus pake tiket. Meskipun berhasil masuk dengan ngikutin orang, nyawa kalian terancam. Kalo tau2 ada kontroler, ngga bisa validasi tiket kalian. Gue, mending gue ngga naek metro dah ya..,, Gue belum cukup onta untuk menjadi penumpang gelap metro (biasanya yang berani tu onta2).
Banyak manfaat yang bisa gue ambil dari kehidupan tak bertiket gue ini :
1. Gue sehat, karena bakal sering jalan kaki dan naek sepeda.
2. Gue iteman
3. Muka gue tambah berantakan
4. Gue ahli dalam hal menjadi penumpang gelap
Tapi gue belom kurus2 ih, kesel deh...
Kesimpulan gue, sebenernya nggak susah juga kehidupan makhluk tak berkartu transport. Yang susah adalah kalo diajak jalan2 sama temen2. Bakal cupu banget "gue berangkat dulu ya, karena gue harus jalan kaki ke sono". Sementara temen2 kalian naek metro dengan bahagia.
Salam jitak yah buat diknas, pemberi beasiswa gue. Ohya, kan ada kewajiban ISR nih, nulis artikel dengan embel2 "penerima beasiswa diknas" di bawah. Nah, gue mau gitu juga. Blog gue kan termasuk tulisan, dipublish pula, maka, dengan ini gue tulis di bawah :
Artikel ini dipersembahkan oleh
Kiki Irawati
Penerima beasiswa Unggulan Diknas 2012/2013
(yang semoga beasiswanya cepet turun dan idup saya kembali normal)
Amin.
Pernah nih ya, gue butuh banget kertas kalkir buat tesis gue, tapi duit gue tinggal 3,54 euro. Kalo gue belanjain kalkir, nanti gue nggak makan. Kalo gue makan, nanti tesis gue gak kegarap, gue dibunuh om got. Akhirnya gue beli kertas kalkir. Karena proses kematian yang disebabkan kelaparan itu lebih lama daripada proses kematian akibat dibunuh om got, jadi gue memilih kertas kalkir. Gue masih idup kan buktinya?
Gue berkali2 ngutang sama bank (oya, bank gue bisa ampe minus 400 saldonya, jadi ibaratnya kamu bisa ngutang bank). Udah 3 kali pula ATM gue diblokir karena minusnya udah maksimum. Gimana ngga maksimum, orang itu gue buat bayar kos. Soalnya si bapak kos ngomel mulu kalo gue kaga bayar2.
Endingnya, sekarang ATM gue kembali diblokir dan gue gak bisa bayar kartu transpor gue. Fine. Maka, terhitung sejak 1 juni 2013, gue udah ngga bisa menikmati metro, bus, ato tram, kecuali :
Nah gue ceritain kisah2 gue tanpa si kartu yahhh...
Pilihan pertama gue buat berpindah tempat adalah SEPEDA. Gue, berkat insting dan prediksi akurat gue (gue memprediksi gue bakal jatuh miskin sehingga gak bisa bayar kartu transpor) jadi gue memilih langganan sepeda dengan nominal 15 euro setahun. Langganan itu buru2 gue buat waktu gue masih ada sedikit uang. Sekarang, gue bahagia banget punya abonemen sepeda. Kalo ngga, mungkin gue menempuh rumah-kampus-rumah dan segala aktivitas lainnya dengan jalan kaki. Gue yakin 3 hari kemudian gue bakal mati.
Gue bukanlah orang yang menyerah. Gue tau gue ngga bisa ke mana2 tanpa kartu transpor, tapi gue HARUS BISA KE MANA2. Jadi meskipun jarak rumah-kampus gue itu sekitar 1 jam naek sepeda, gue tempuh dengan bahagia. Gue nggak mau angkrem di rumah kayak setannya yang jaga gudang rumah gue. Nggak, nanti gue diajak dia maen kartu kan gue serem.
Hari pertama gue menempuh rumah-arsip munisipal dengan sepeda (plus gambar2nya om got, leptop, buku2 laknat) dalam waktu 1 jam 07 menit. Gue laksanakan tanpa transit, kalo kata Air France, "vol direct". Lalu pulangnya gue juga menempuh kira2 50 menitan. Kurang sehat apa coba? Gue sepedaan sehari 2 jam...
Untungnya gue tinggal di Lyon yang punya sistem penyewaan sepeda self service yang keren banget. Dengan 346 stasiun sepeda dan 450 km jalur sepeda dan 2000 sepeda (gue tau banget karena PR gue dulu ngebahas ini), gue bisa berkelana Lyon dan Villeurbanne dengan makhluk ber-roda 2 ini. Dan segala aktivitas berpindah lainnya gue tempuh juga dengan sepeda. Misalnya dari kampus, gue ke perpus kota, gue harus ke arsip, ato harus ke tempat om got, gue jalani dengan sepeda!
Kemampuan naek sepeda gue meningkat. Misalnya sekarang gue menempuh kampus-rumah hanya 40 menitan. Trus gue mulai demen pake gigi 3, gigi yang berat tapi bikin cepet. Gue yakin pulang ke rumah gue bisa ngelamar jadi atlet sepeda Indonesia. Ato mungkin kalo gue naek becak, gue akan tukeran sama abangnya "Bang lo bawa becaknya pelan banget, sini gue aja yang gowes, lo yang duduk".
Alternatif selain bersepeda, adalah JALAN KAKI. Well, untuk jarak tempuh yang nggak panjang, ini pilihan yang enak. Karena bisa sambil liat2. Siapa tau ada orang ganteng yang bisa ditabrak trus dimintain nomer telepon. Gue nggak sanggup kalo jalankaki dari rumah ke kampus gue. Bisa mati. Apalagi dengan batu2 kali seberat 10 kg (tas gue dan segala isinya). Btw pernah gue timbang loh, tas gue beratnya 10 kilo. Impossible dah ya gue jalan. tapiiiii pernah sekali gue pulang dari cordeliers, gue jalan kaki ke rumah. Pas itu kira2 butuh 1 jam 33 menit. Anehnya, kaki gue ngga sakit. Tapi abis itu gue makan nasi sekalian mejik jer nya. Bener2 menguras tenaga.
Enaknya jalan kaki, kamu bakal tau jalan banget. Pernah gue jalan kaki dari Guillotiere ke resto U kampus di Garibaldi Berthelot. Karena gue sok tau, gue nyari jalan sendiri. Eh jadinya kejauhan. Gue udah filing harusnya gue belok kanan. tapi gue nurutin setan, gue ke kiri, jadilah melanglang jauh, hingga akhirnya gue balik dan kembali ke sekitaran Guillotiere. Nyasarnya lumayan kampret. Trus gue jalan lagi, dengan mengikuti kata malaikat, belok ke kanan. Nah barulah gue nyampe. Abis itu, di resto U, gue ngabisin makanan gue cuman 5 menit.
Gue sekarang sering banget jalan kaki. Dari Arsip ke kampus, gue prefer jalan kaki. Yeah gue bakal jadi student paling sehat dan paling hitam terbakar matahari. Mungkin kalo nanti pulang ke indo, nyokap bakal salah mengenali gue. Gue bakal dikira keripik paru berjalan.
Pilihan ketiga yang cukup ekstrim tapi lebih enak adalah : JADI PENUMPANG GELAP. Intinya kamu tetep naek bis/metro/tram tanpa tiket. Hingga detik ini, gue baru berani nyoba naek tram. Dan gue sukses. Karena sepanjang perjalanan, gue bertasbih, berdoa, baca alkitab, bakar dupa, segala macem biar ngga ada controlleur nongol (sejenis makhluk2 garang menantang yang kerjaannya masuk ke tram/metro/bis buat meriksain tiket). Beberapa tips seputar jadi penumpang gelap (berdasarkan apa yang gue lakukan di lapangan) :
1. Beli tiket 1 biji. Kantongin tiket ini baik2, harganya cuman 1,7 euro. Simpen di kantong, jangan dimasukin mesin validasi pas naek tram. Sayang. Simpen aja. Buat jaga2 doang.
2. Ngga usah tergoda buat nyari tempat duduk. Sebagai makhluk tak bertiket, kalian harus sadar diri : BERIDIRILAH DEKET MESIN VALIDASI. Jadi kalo pas di stasiun mana gitu ada kontroler nongol, kalian udah siap ngevalidasi tu tiket. Tapi selama gak ada kontroler, stay cool aja di sono.
3. Naek tram, pilih gerbong depan. Kenapa? Kalo pas mau nyampe stasiun2nya, kalian bisa ngeliat duluan apakah ada kontroler stand by di stasiun itu nggak. Kalo ada, kalian masih punya waktu buat ngevalidasi tiket, atao kalo ngga mau rugi, bisa turun langsung di tu stasiun. Karena biasanya kalo nggak stasiun terakhir, kontroler cuman meriksa mereka yang di tram, bukan yang keluar tram. Kalo mau lebih nekat, sebelum nyampe, buruan lompat dari tram.
4. Naek bis, naeklah dari pintu tengah atau belakang, barengan sama orang keluar. Karena kalo pintu depan, bakal dipelototin supirnya. Kalo di halte berikut2nya liat kontroler, buruan turun dan tunggulah bis berikutnya. Saran gue daripada rugi ngevalide tiket, mending turun dah ya. Untuk memudahkan kalian naek dari pintu tengah atau belakang, usahakan cari halte yang rame (banyak orang naek turun) jadi pintu tengah en belakang bakal dibuka. Kalo ngga, biasanya kalian "dipaksa" naek dari depan.
5. Naek metro, kalo kalian ngga mau mati,mending ngga usah. Karena kalo mau masuk stasiun metro, harus pake tiket. Meskipun berhasil masuk dengan ngikutin orang, nyawa kalian terancam. Kalo tau2 ada kontroler, ngga bisa validasi tiket kalian. Gue, mending gue ngga naek metro dah ya..,, Gue belum cukup onta untuk menjadi penumpang gelap metro (biasanya yang berani tu onta2).
Banyak manfaat yang bisa gue ambil dari kehidupan tak bertiket gue ini :
1. Gue sehat, karena bakal sering jalan kaki dan naek sepeda.
2. Gue iteman
3. Muka gue tambah berantakan
4. Gue ahli dalam hal menjadi penumpang gelap
Tapi gue belom kurus2 ih, kesel deh...
Kesimpulan gue, sebenernya nggak susah juga kehidupan makhluk tak berkartu transport. Yang susah adalah kalo diajak jalan2 sama temen2. Bakal cupu banget "gue berangkat dulu ya, karena gue harus jalan kaki ke sono". Sementara temen2 kalian naek metro dengan bahagia.
Salam jitak yah buat diknas, pemberi beasiswa gue. Ohya, kan ada kewajiban ISR nih, nulis artikel dengan embel2 "penerima beasiswa diknas" di bawah. Nah, gue mau gitu juga. Blog gue kan termasuk tulisan, dipublish pula, maka, dengan ini gue tulis di bawah :
Artikel ini dipersembahkan oleh
Kiki Irawati
Penerima beasiswa Unggulan Diknas 2012/2013
(yang semoga beasiswanya cepet turun dan idup saya kembali normal)
Amin.
Langganan:
Postingan (Atom)
