Kamis, 02 Agustus 2012

Balada Proposal thesis

Hai pemirsah... gue baru makan superbesar hari ini (biasanya juga sih). Ceritanya, pagi-pagi gue udah diajak nyokap cari nasi kuning. Oke, gue makan. Siang-siang, abis ngemis dana keliling Undip, gue makan di warteg. Sore ini, gue diajakin Vira buka di SVJ, dan perlu diketahui, gue makan sangat kalap. Dan lalu, malam ini gue udah ngabisin satu loyang bronis dari Vira. Kadang gue berpikir apakah gue dilahirkan dengan lambung yang normal atau tidak. Ataukah gue dilahirkan dengan lambung sapi atau lambung gorila. Atau karena nyokap gue waktu hamil demen banget nonton film "Santet". Film ini ceritanya tentang orang kesurupan genderuwo sehingga porsi makannya jadi sepuluh kali lipat dari orang waras. Yah, sepertinya nyokap gue salah tontonan waktu hamil. Tapi setidaknya, jaman itu belum ada film Hulk atau Saw.

Okeh, omong-omong soal lambung, gue memang terlahir dengan volume lambung berlebih. Tapi, tidak dengan otak berlebih. Hal ini gue buktikan waktu gue berhadapan dengan proposal thesis. Seperti yang kalian ketahui, gue di MPWK itu bagai anak ayam nyasar di hutan Kalimantan, hidupnya terancam, baik oleh predator maupun bahaya alam. IPK gue yang terjerembab ke basement nya neraka membuat gue semakin yakin bahwa otak gue sudah menjadi kepingan-kepingan nista.

Kejutan luar biasa datang dari admin MPWK, di mana telah terjadi pemasangan pengumuman jadwal sidang proposal tesis, secara anarkis. Gue, yang pada saat itu sakit jiwa dan otak akibat belajar buat tes bahasa perancis, langsung speechless. Perang batin berkecamuk. Gue ngerasa antara pengen melarikan diri ke Madagaskar atau beli bensin buat bakar kampus. Gue yang ditakdirkan sidang tanggal 11 Juli (yang pada saat itu terhitung 22 hari lagi), gak ngerti kudu ngapain. Gue gak pernah dapet judul yang keren. Pembimbing gue siapa aja gue gak inget. Gue seperti sekolah di sekolah gaib.

Gue pun melarikan diri. Engga,gak jadi ke Madagaskar kok. Duit gue udah abis buat bayar tes delf yang mencapai 695.000. Banyak kan? iye, gue jadi harus cari strategi biar bisa makan gratis tiap hari selama 2 minggu. Gue melarikan diri ke perpus.
Perpus, bagi sebagian orang, merupakan tempat yang indah. Bagi mereka, perpus adalah solusi atas kegalauan dalam bertesis. Banyak buku, banyak bacaan, banyak teori. Bagi gue. hal tersebut justru berlaku sebaliknya. Banyak buku, banyak bacaan, bikin gue makin mati otak. Buat gue, lebih baik gak baca sama sekali daripada kena jetlag seumur idup.
Namun, perpus adalah tetaplah pengursir kegalauan dalam bertesis. Kalo gue pusing, gue tinggal geletakin diri di kursi perpus, dengan muka nantang AC, trus merem dengan khidmat, gue pasti pules. Atau, kalau seluruh jalan udah buntu, gue tinggal buka jendela en lompat secara gegap gempita. Dan sangat menolong, karena perpus gue di lantai tiga.

Perpus, masih sepi. Yah sepertinya gue dateng kepagian, ato kerajinan. Buruan gue bongkar isi tas keramat gue, gelar-gelar buku perances, pasang hedset, taroh kepala di meja, trus gue bersiap mimpi indah.
Pas gue lagi merajut mimpi, mas Agung dateng., buka laptop trus sebar-sebar buku. Gue cuman bengong.
"Lagi apa Kik?"
"oowh.." gue ngulet..."perancis nih besok ujian"
"tesis gimana?"
"ooowh...ya..."
hening
sebenernya gue pengen jawab "sukses kok, dia uda gue kirim ke neraka"
"belom selembar pun"
rasanya gue pengen beranjak sekarang dan lompat dari jendela. tapi gue inget, gue udah keluar 695.000 buat tes. Kalo gue mati sekarang, duit itu bakal sia-sia.
Sepanjang siang bolong itu, pemandangan gue adalah "Mas Agung lagi sibuk ngetik tesis". Bagi kaum yang belom mengerjakan sebuah huruf pun, seperti gue, melihat pemandangan seperti itu adalah siksaan batin. Gue pengen ngerjain, tapi apa yang gue kerjain? Nyangkul sawah? Bakar kemenyan?
Dan pemandangan-pemandangan semacam ini semakin berhamburan. temen-temen gue, one by one berbondong-bondong dateng ke perpus en mulei sibuk sama tesis.
Gue cuman ngadep buku delf gue sambil ngupil.

Abis DELF, waktu buat gue ngerjain tesis semakin berkurang
H-18. Gue yang pas itu abis tes delf, ngerasa kalo nyawa gue ude lobet banget. Gue pulang dari tes dengan kepala, kaki, tangan, dan pertut yang bertuker-tuker tempat. Gue jalan pake perut, makan pake idung, dan mikir pake telapak kaki... Parahnya, gue sampe sulit membedakan rumah gue sama indomaret.
Untuk mengembalikan kenormalan gue, ato lebih tepatnya dikatakan sebagai "mengurangi intensitas keabnormalan gue", gue butuh tidur selama berhari-hari.
Gue merasa terbangun sembilan hari kemudian.

H-9. Gue sadar kalo waktu gue tinggal sembilan hari, 15 jam dan 42 menit lagi
Tapi, tetep aja gue masih duduk ngangkang sambil kipas-kipas. Pencapaian tesis gue masih NIHIL. Ibarat perjalanan Jakarta-Semarang, tesis gue masih nyampe "ngebangun stasiun Gambir". Hingga detik ini, judul gue masih morat marit. Gue pingin neliti tentang MRT, ato banjir, ato kehidupan di lokalisasi, ato kandungan logam berat pada kloset di rumah gue. Gak ngerti. Gue buta arah.

Gue bertanya pada beberapa ahli, pacar gue misalnya. Gue tau dia pinter, tapi uang telah mengubur kepandaiannya dalam-dalam. Otak dia, menurut gue, saat ini telah mengalami sublimisasi menjadi kumpulan duit seratus ribuan. Dan kita engga akan bisa menemukan debu-debu kepandaian maupun kecabulan dari otaknya. (for information, dia adalah satu-satunya pria di dunia yang gak doyan bokep hingga membuat gue meragukan kejantanannya).
Pacar gue : "hmmmmm" (mikir sambil makan KFC)
Gue : "Ape dong? ide ide..."
Pacar : "hmmmm" (ngunyah tulang ayam) ---> gue menduga dia lagi bongkar brankas di otaknya, tapi hasilnya enol.
Tiba-tiba, kayak ada mercon diledakkan setan di kepalanya, dia nyahut :
"oh gimana kalo tentang penurunan muka tanah?"
"trus diapain?"
"pengaruhnya sama ekonomi masyarakat Tanah Mas"
"trus ? Ngaruh gitu penurunan muka tanah ama ekonomi?"
"Ngaruh dongg..." trus dia njelasin dengan serpihan-serpihan tulang paha ayam berhamburan di mulutnya
"Ngitung ekonomi berarti?"
"Iya"
"Engga, aku ngga mau asistensi sama pak MMA. "
Gue nyerah dengan judul ini.

Gue berusaha mencari semangat. Gue mencari hal-hal yang bisa ngebuat gue punya daya dan upaya untuk setidaknya buka Ms Word dan ngetik tesis. Entah apaan bunyinya, pokoknya gue bisa nulis. Titik. Lalu gue inget salah satu dosen gue yang ganteng. Dia ahli di bidang infrastruktur, dan Vira, adalah anak bimbingannya. Dengan berkilah gue nemenin Vira, gue bisa nyamperin tu dosen trus minta asistensi. Gue tau gue norak, tapi itulah cara supaya tangan gue mau ngetik. Gue pun bikin judul tentang infrastruktur transportasi.

Inilah judul tesis gue... eng ing eng...
"Pengaruh pembangunan jalur MRT underground terhadap eksistensi situs bersejarah bawah tanah di kota tua jakarta"
Cakep kan?
Gak tau sih cakep apa engga.
Inilah judul yang secara tiba-tiba gue dapatkan melalui pertarungan setan dan iblis di kepala gue.
Alesan gue bikin ni judul :
1. Gue gak tau kenapa
2. Gue bisa jalan-jalan ke Jakarta
3. Ini udah H-9, apa yang mampir di otak gue akan gue jadiin judul. Bahkan kalo pas itu otak gue berkata "pengaruh konsumsi genteng tanah liat terhadap kecerdasan dan orientasi seksual anak usia 6-10 tahun"
akan gue tesisin.

Gue pun mengetik, ditemenin modem buat cari contekan, segelas kopi, dan beberapa bilah pisau, jaga2 kalo gue kepikiran buat bunuh diri.
Lalu bagemana nasib gue dalam bertesis?
Apakah gue selamat pas sidang proposal? Ato gue mati mengenaskan?
Apakah akhirnya gue bakal ketemu pembimbing gue yang katanya konon lagi pelatihan di Jogja sehingga gue jadi anak telantar dan mencari induk baru yang ganteng?
Hokeh, let see my next story....

Palak gue pusing, mo ngebo dolo.
Selamat malam bagi manusia dan selamat malam buat mbak kunti...










2 komentar:

Anonim mengatakan...

haha...keren..keren ki ni blog :) mazdaMasDo'

Anonim mengatakan...

wkwkwkwkwkwkw slalu ngakak baca blokmu
kapan ya aq nulis blogku lg

vira

Posting Komentar